Cerita Anak Kucing

Anak manusia, kenapa susah sekali adanya?
Anak kucing, kenapa mudah sekali tampaknya?
Mungkin begitu, yang muncul di pikiran orang yang tak bersandar pada ketentuan Allah :)
Kucing tak perlu promil, kucing tak perlu diet makan yang sehat-sehat, kucing tak perlu olahraga setiap hari, dan kucing tidak perlu stop minum kopi (dia ga minum kopi by the way).
Tapi kucing tidak stres, karena teman-temannya tidak ada yang nyinyir, palingan hanya saling ngeong-ngeong kalo ada perselisihan.

Kucing juga tidak dituduh telah melakukan KB kalau sudah tua masih belum punya anak (yang kucing sendiri tidak tahu bentukannya KB kimia maupun KB alami seperti apa). Karena, kucing-kucing yang lain (temannya si kucing) terlalu sibuk sama urusan pribadi mereka, yaitu menjemput rezeki berupa tulang ikan dengan sedikit daging dan mengisengi tikus tetangga.

Pun kucing tidak suka pamer kalau anaknya lebih banyak dari anak kucing yang lain, dia tidak membuat temannya 'kezel' dengan terus menerus menjawab pertanyaan yang sama. Lagipula, kucing-kucing tidak saling membanding-bandingkan kehidupannya sesuai dengan standar yang dibuat-buat.

Jadinya, kucing tidak banyak pikiran, lingkungan mendukung untuknya bereproduksi, karena kucing bukan bakteri jadi tidak bisa melakukan pembelahan biner (loh kok jadi bahas bakteri ini, wkwk).

Meskipun demikian, kucing Allah anugerahi insting yang keren sekali, tanpa baca buku parenting, dia bisa membesarkan anaknya hingga dewasa dan Allah pertemukan dengan pasangannya, bereproduksi lagi, hingga si ibu kucing jadi nenek, dan seterusnya.

Kucing di depan Hotel La Villa, Taksim, Istanbul
Kucing di depan Hotel La Villa, Taksim, Istanbul

Allah menciptakan manusia dengan sempurna (fisik yang indah lagi pikiran yang cerdas) untuk memerintahkannya beribadah kepada Allah dan sebagai pemimpin di muka bumi. Oleh karena itu, membesarkan anak manusia bukanlah hal yang mudah.

Ada banyak tanggung jawab, akan ada hisab, butuh ilmu mumpuni untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari tingkah polah si anak kelak, yang tak diperoleh di bangku sekolahan. Jadi yakinlah, jika sudah dianugerahi cahaya mata oleh Allah, maka Allah mempercayai untuk diberi semua tanggung jawab itu. Oleh karena itu, tidaklah perlu mengurus kehidupan orang lain yang tampaknya tak ada ikhtiar (karena tidak semua di post di IGs, keep things private is a must).

Pun tidak perlu mengatakan enak ya begini, enak ya begitu, bisa begini, bisa begitu. Semua sudah Allah atur dan Allah rencanakan sesuai dengan yang sudah Allah takdirkan. Rezeki sudah tertakar tidak mungkin tertukar, bukan? Anak manusia itu rezeki. Kayak jodoh, enggak mungkin tertukar apalagi diambil orang. Begitu juga pekerjaan, "no one will take your job away from you".

Jadi, stop mantau rumput tetangga yang kadang terlihat lebih hijau, fokuslah sama rumput di halaman sendiri, yang bisa ditanami mangga, jambu, belimbing wuluh (untuk dibuat asam sunti), daun temurui (untuk asam keueung), dan lain-lain.

Kalau fokus pada tujuan (bahagia dunia akhirat, dalam kubur taman surga, di akhirat masuk surga), enggak ada tuh waktu untuk ngurusin rumput dan tanaman-tanaman lain di halaman orang.

Enggak ada bahan lain untuk basa basi? Hmm. Kalau setiap pertemuan dengan saudara kita niatkan akan memperoleh hikmah (berupa ilmu), in shaa Allah akan ada jalannya.
Kalau pun di curhatin, enggak boleh loh langsung ngasih solusi tanpa dimintai. Karena terkadang orang curhat itu cuma butuh di dengar. Meskipun curhat teraman adalah sama Allah, selain curhat, dapat bonus hati tenang dan diberi jalan keluarnya oleh Allah.

Kalau anggota keluarga bukan tipe panikan, boleh banget curhat ke keluarga saja, karena mereka yang selalu sayang tanpa syarat :) Tapi kalau enggak mau nyusahin keluarga dengan cerita yang mungkin mengkhawatirkan, dan sudah enggak tahan harus banget nih curhat ke manusia, minta petunjuk ke Allah, sama siapa bisa curhat yang dapat dipercaya. 

Karena, di akhir zaman ini hal yang paling susah adalah menutup mulut manusia, lebih mudah menutup seribu botol sirup rasa-rasanya daripada menutup satu mulut manusia.
Waktu dicurhatin langsung auto jawab, "iya enggak akan kasih tau siapa-siapa". Besoknya, temannya dia yang juga teman kita pun tahu masalahnya. Padahal kan janjinya enggak boleh kasih tahu siapa-siapa. Sering ngalamin enggak tuh?

Makin tengah malam menuju pagi hari, mulai ngalor ngidul, baiklah kita sudahi saja cerita random ini, semoga ada hikmahnya. 

Krueng Raya, 14 Desember 01.41 WIB.

0 Response to "Cerita Anak Kucing"

Post a Comment

Peraturan Berkomentar

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang santun, baik, dan sopan.
- Berkomentarlah sesuai dengan topik (relevan).
- Dilarang keras komentar yang mengandung SARA, pornografi, kekerasan, dan pelecehan.
- Komentar dengan link promo akan masuk spam.

Terima kasih.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel