Apr 1, 2018

Penyebabku Banyak Makan

Dulu sekali, waktu masih kecil dan bersekolah di taman kanak-kanak, diantara teman-teman seumuranku, aku termasuk anak yang gampang sekali sakit dan daya tahan tubuhnya lemah. Tiada bulan yang terlewati tanpa mendatangi praktek dokter spesialis anak. Samar-samar masih tampak bayangan akan kenangan saat kedua orangtuaku yang menggendong dan mengantri di praktek Almarhum dokter Amin (seingatku nama beliau adalah dokter Amin), yang kini sudah berpulang kepada Sang Khalik. Dokter selalu mengatakan, jangan minum es, dan selalu meresepkan vitamin daya tahan tubuh kepadaku, agar kuat dan sehat, semangat makan dan tidak pilih-pilih.

Bakso Laman Astaghfirullah, Bandung
Bakso Laman Astaghfirullah, Bandung

Hingga akhirnya, kedua orangtuaku, kakak-kakak dan abang-abang, melakukan pengawasan ketat agar aku tidak minum es lagi. Mulai dari Mamak yang menyampaikan kepada Bunda yang menjual es di kios yang bertempat pas di samping TK, untuk menjagaku agar tidak jajan es, juga Kakakku yang tiba-tiba nongol kayak Valak, baik di jendela kelas TK ku, maupun di depan pintu pagar TK, aiih horornya ingat saat itu, hahaha. 

Sebenarnya sakitku yang harus ke dokter tiap bulan itu tak lain dan tak bukan adalah karena radang tenggorokan. Suka minum es di cuaca yang sedang terik, ikut teman-teman sekolah main di halaman tanpa pake topi, pulangnya selalu langsung demam dan perih di tenggorokan. Lucunya, hingga berkuliah di S1 pun aku masih begitu. Tiada bulan tanpa mendatangi dokter. Entah karena bakso yang aku makan selalu pedas dan penuh saos, lalu dilanjutkan dengan segelas Cola dingin. Nikmatnya bakso pedas dan Cola dingin selalu sirna karena radang tenggorokan. 

Bakso pedas dan Cola dingin menjadi makanan dan minuman terfavoritku sejak hari pertama bersekolah di salah satu SMP Negeri di Banda Aceh. Kalau waktu masih di TK dan MIN mana bisa aku sering-sering makan pedas dan minum Cola, pasti Kakakku yang suka nongol tiba-tiba itu sudah melotot, wakakaa. Walaupun dalam seminggu ada beberapa kali minum minuman bersoda di warung kopi milik orangtua kami yang berjarak tak jauh dari rumah. Kalau sudah makan yang pedas dan penuh saos serta bersoda, biasanya pada malam hari, badanku seketika tak enak, langsung radang tenggorokan, bengkak dan perih.

Ponakan-ponakan yang masih batita paling sering mengejek kalau sudah begitu, ada saja yang ditirunya. Entah meniru suaraku yang hilang, meniru aku menangis karena perihnya saat menelan makanan. Seringnya meminum vitamin sejak bayi (orangtuaku sering bawa untuk check up ke dokter padahal enggak sakit, untuk sekedar dikasih vitamin biar sehat terus), membuat aku yang sekarang selalu kuat makan dan nafsu makan. 

Puncaknya aku banyak makan saat aku di kelas 1 SMA semester 2. Meskipun sebelumnya aku banyak makan dan jajan, tapi di kelas 1 SMA ini seperti tak kenyang-kenyang. Saat itu, aku mengalami kecelakaan tabrak lari yang menyebabkan aku koma 2 malam (karena gegar otak ringan), darah mengalir dari telinga sebelah kanan selama berhari-hari (terjadi pendarahan dalam), dan aku diopname hampir sebulan. Lengan kananku yang sebelah kanan patah, hingga Alhamdulillah dapat lurus kembali setelah kurang lebih tiga bulan pasca kecelakaan. Belum lagi bahuku yang sebelah kanan dulu pernah mengalami cidera saat tsunami, bagian itu juga ikut kembali cidera.

Hari-hari di opname, semua Kakak dan Abangku rutin menjenguk, membawa banyak makanan. Makanan di rumah sakit kuhabiskan dengan lahap, makanan yang dibawa Kakak Abang pun ludes. Baru sebentar makan, aku kembali meminta nasi bungkus pada Abang, dan ngomong, lapar lagi ni beli nasi lagi lah. Semua anggota keluargaku sama sekali tak masalah yang penting aku cepat sehat dan beraktivitas seperti sediakala, mereka yakin ini pasti efek obat, baik obat yang diminum maupun yang disuntik tiap sejam sekali (padahal disuntik melalui selang infus tapi perih sekali).

Sudah beberapa bulan berlalu, badanku mengembang dan bengkak, gendut sekali, baju-baju tak ada yang muat lagi. Mulai minder saat dikatain gendut kemanapun aku pergi. Sebenarnya bingung juga, saat kurus aku dibilang tak makan, saat gendut disuruh diet. Tapi mau diet bagaimana, aku masih berobat jalan dan rutin ke dokter spesialis saraf yang menanganiku saat kecelakaan dulu, karena vertigo masih sering menghampiri, belum lagi telinga yang berdengung-dengung karena saat itu pernah mengeluarkan darah. Setelah beberapa kali bolak balik ke dokter tersebut, masih juga kepalaku sering sakit (seperti migrain), karena benjolannya saja masih ada hingga sekarang. Kami pun memutuskan untuk lanjut berobat sama Om Mar, agar bisa total sembuh.

Setelah kecelakaan itu, aku mengalami gangguan sulit tidur, hanya tidur beberapa jam sehari (dan tidak tidur siang), meskipun sebelum kecelakaan aku juga sering tidur telat (diatas jam 12), karena menonton film bersama seluruh anggota keluargaku, di keluarga kami memang jarang ada yang tidur cepat. Jadi untuk mengatasi gangguan tidurku itu, aku meminum vitamin yang diresepkan oleh Om Mar (yang mengobati keluarga kami sejak aku tak lagi ke Almh dokter Amin), agar gampang tertidur. Vitamin herbal yang aku konsumsi itu hanya saat benar-benar tidak bisa tidur, itu pun selalu aku selang-seling minumnya, sama sekali tidak ada efek samping yang berbahaya, Insya Allah.

Namun yang terjadi aku jadi gampang lapar, sebenarnya kata Om Mar itu juga karena aku menderita tukak lambung (penyebabnya karena suka makan pedas dan asam), jadi Om bilang jangan banyak-banyak makan nasi, makan biskuit tawar saja kalau lapar biar enggak gendut. Ya, aku pasti mengiyakan (biar enggak diomelin si Om). Tapi yang terjadi aku bisa makan nasi padang 3x sehari, haha.

Selama di Bandung pun begitu, apalagi cuacanya dingin. Semua sahabat dekatku paham betul, kalau mereka ingin bertemu dengan kami (aku dan suami), pasti selalu di tempat makan. Meskipun agendanya adalah jalan-jalan dan sekedar cuci mata di mall, ujung-ujungnya tetap harus makan. Kalau mereka tidak mampu menghabiskan, dari awal sebelum mereka makan aku sering ngomong, transfer kesini kalo kira-kira enggak habis (ini rakus sih). Tapi ada beberapa adik-adik yang sudah paham. Diniya salah satunya, selalu langsung pisahkan nasinya dan bilang, ini untuk Kakak ya (aih malunya aku).

Meskipun aku sudah jarang minum suplemen herbal tersebut, sepertinya keseringan makan sudah menjadi kebiasaan (tidak bisa ditahan), karena pasti perut perih dan sakit kepala. Belum lagi kalau menonton videonya Bara Ilham di channel Tanboy Kun, seorang youtuber yang selera makanannya persis seperti kesukaanku. Biar saja aku gendut, yang penting sehat dan tidak menyusahkan orang lain. Kalau kata youtuber Eka Gustiwana, biar aja jelek yang penting sombong, haha.

Part of Caturekamandala PK 41-LPDP.

Aceh Besar, Indonesia. A Future Educator, Insya Allah

2 comments

Kadang-kadang rasa lapar muncul jika pernah suatu kali makan banya jd nagih di lain waktu.
http://www.blogdokter.id

Wah iya Pak, benar sekali. Apalagi makanan yang cocok rasanya dengan lidah kita, terbayang-bayang disaat lapar.

Peraturan Berkomentar

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang santun, baik, dan sopan.
- Berkomentarlah sesuai dengan topik (relevan).
- Dilarang keras komentar yang mengandung SARA, pornografi, kekerasan, dan pelecehan.
- Komentar dengan link promo akan masuk spam.

Terima kasih.
P.s. Silahkan klik pada tombol Emoticon jika ingin memasukkan emoticon.
EmoticonEmoticon