Oct 1, 2018

Bukan Harganya Tapi Kenangan Bersamanya

Minggu siang, 30 September 2018 lalu kosan kami dikejutkan dengan hilangnya dua pasang sneakers Tomkins pasutri yang sedang berjuang dengan masa-masa akhir tugas akhir mereka. Biasanya pasutri ini jarang sekali tidur di malam hari, jam tidur mereka bisa 1 atau 2 jam sebelum subuh, sang suami malahan sering tidak tidur sama sekali hingga subuh. Namun entah mengapa, malam minggu itu keduanya lumayan cepat tertidur. Sang suami sudah pulas di jam 00.30, menyusul si istri sekitaran jam 01.30, itu pun kalau hp nya tidak jatuh ke wajahnya dia tidak akan berhenti menonton salah satu program reality show kesukaannya di channel Youtube KBS World TV.

Siang itu, si istri baru keluar dari kamar kosan mereka, sambil melihat cucian kotor yang hanya 3-4 potong saja yang ingin segera ia cuci. Kok ada yang aneh ya, kok kelihatan kosong ya, apa ini yang aneh, kok sepertinya ada yang tidak ada, gumamnya dalam hati. Ternyata oh ternyata, "bang, sepatu kita ni mana ya, kok enggak ada, apa ada yang pindahin?". Suaminya terpaku, lalu istrinya tiba-tiba sadar, "Ya Allah sepatu kita dicuri nampaknya ni bang ee"..

Suaminya bergegas ngecek ke lantai 1, lalu ke lantai 3 (kamar mereka di lantai 2), lalu dia memberi tahu istrinya, enggak ada, nampaknya benar dicuri. Lalu ibu di kamar sebelah menyarankan untuk menghubungi bapak kost, mungkin beliau tahu. Lalu mereka melanjutkan kegiatan seperti biasa, dalam hati istrinya sudah mikir macam-macam, bukan karena dulu Amaaknya menanyakan kenapa beli sepatu harga segitu, bukan. Tapi kenangan-kenangan bersama sepatu itu.

Cerita diatas adalah pengalaman pribadi saya dan suami, pengalaman yang sangat tidak mengenakkan selama di Bandung. Karena diatas ceritanya seolah bukan cerita kami, di bawah ini ceritanya tidak lagi menggunakan kata ganti si istri dan suami ya, langsung dengan menyebutkan kata saya saja, hehe biar greget gitu di opening.

Dan bapak kost pun cuma nge-read saja WA suami saya, mulai dah tuh saya mewek, ngomong ke suami, "bang, itu sepatu paling banyak kenangannya, udah nemanin aku dari awal-awal perkuliahan S2 di bumi siliwangi ini, mudik tiap lebaran Idul Fitri 2017 dan 2018, ikut kita pas ke Qatar dan Turki, kuliah lapangan ke BMKG sama teman-teman IPA 2016 dan sama Pak Bayong dosen mata kuliah IPBA (pulang dari BMKG lanjut ke Sea World), Seminar Proposal Tesis, bimbingan tesis sama Prof Ari dan Pak Riandi, last but not least mengitari setiap sudut kota Bandung sama member CaUmTa. Ya Allah aku sedih, lalu keluarlah bulir-bulir bening dari sudut mata ciptaan Allah (yang mereka katakan besar ya matanya) ini.

Sepatu Tomkins kami berdua di Museum Topkapi Turki
Sepatu Tomkins kami berdua di Museum Topkapi Turki

Suami saya pun menjawab, sabar. Abang beli sepatu itu waktu kita mau PK LPDP tahun 2015 di Medan sama Mamak abang, sudah lama sekali kan, selama itu juga dia berbagi kenangan dengan abang, sampe kita nikah dan pindah ke Bandung buat lanjut S2, (dan ini adalah kali kedua suami saya kehilangan sneakers Tomkins, dulu saat S1 juga dicuri orang saat shalat jum'at), Insya Allah nanti Allah ganti lagi dengan yang lebih baik. Sontak saya pun menjawab, Aamiin Insya Allah yakin aja diganti sama Allah dengan beribu kebaikan, yang aku sedih bukan karena harga sepatunya, tapi kenangan bersamanya. Suami pun kembali menjawab, iya sabar, Insya Allah akan ditolong kita selalu sama Allah. 

Saya pun kembali menimpali, iya bang benar. Semua yang ada sama kita kan titipan Allah, enggak ada yang benar-benar milik kita. Mudah bagi Allah untuk mengambil lagi segala kepunyaannya. Seperti saat tsunami 26 Desember 2004 lalu, waktu itu jangankan barang kesayangan yang enggak ada, nyawa pun hampir pergi dari raga, Alhamdulillah bersyukur sekali masih dikasih kesempatan hidup sama Allah. Dan setelah itu, Allah ganti dengan kebaikan beribu kali lipat, Insya Allah selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang kita alami, yang penting selalu yakin ke Allah, tautkan hati ke Allah, karena setiap kejadian yang diberikan oleh Allah kepada kita adalah kebaikan.

Part of Caturekamandala PK 41-LPDP.

Aceh Besar, Indonesia. A Future Educator, Insya Allah

Peraturan Berkomentar

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang santun, baik, dan sopan.
- Berkomentarlah sesuai dengan topik (relevan).
- Dilarang keras komentar yang mengandung SARA, pornografi, kekerasan, dan pelecehan.
- Komentar dengan link promo akan masuk spam.

Terima kasih.
P.s. Silahkan klik pada tombol Emoticon jika ingin memasukkan emoticon.
EmoticonEmoticon