Jun 26, 2012

Pentingnya Pendidikan Berkarakter

Sudah terlalu lama berpisah dari blog ini. Kesibukan dengan praktikum yang mengharuskan observasi lapangan, tugas-tugas kuliah tiada henti, hingga ujian akhir semester membuatku meninggalkan blog tercinta ini untuk sementara…

Akhirnya ujian akhir semester pun usai. Here I am...Kembali dengan postingan mengenai Pentingnya Pendidikan Berkarakter. Bukan karena saya baru saja menyelesaikan RPP (Rencana Program Pembelajaran) berkarakter, akan tetapi karena banyak sekali kejadian di kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan Emotional Spiritual Quotient (ESQ).

Sebenarnya semua yang ingin saya utarakan adalah berdasarkan pengalaman dan pengamatan yang telah saya lakukan sejak menginjak Taman Kanak-Kanak hingga kini di perguruan tinggi yang akan beranjak ke semester 7.

Menurut pendapat saya, seseorang yang memiliki kecerdasan emosional adalah orang yang tidak membuat orang lain marah dan emosi, tetapi juga mampu mengendalikan emosinya sendiri yang tidak hanya berupa perkataan, tapi juga pada perbuatannya yang tampak dari apa yang ia cerminkan di kehidupan sehari-hari. Sekalipun ia bukan seorang yang berbicara meledak-ledak, tetap saja ada faktor lain yang membuat orang marah dan menjadi “emosi”. Salah satu faktornya adalah karena sombong dan meremehkan, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, dan tidak memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berbicara.

Memang benar, dengan mendengarkan kita mendapat lebih banyak dibanding terus menerus berbicara. Tapi mendengarkan dalam hal yang seperti apa? Mendengarkan untuk akhirnya tidak ada kesempatan berbicara? Tentu tidak demikian. Kita harus tetap mempertahankan hak kita untuk mengemukakan pendapat. Namun jika keadaan tidak lagi memungkinkan, lebih baik diam dan tidak perlu untuk mendengar jika hanya membawa diri anda ke dalam kondisi yang sangat menjengkelkan.

Kejadian di atas sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, seorang guru yang kini telah menerapkan pendidikan berkarakter dalam proses belajar mengajar, hendaknya benar-benar membuat hal tersebut terjadi di lapangan. Tidak hanya tertulis di RPP bahwa siswa mampu menghargai pendapat teman, menjadi pendengar yang baik, memberikan kesempatan bagi teman yang ingin memberikan pendapat, bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, dll. Guru juga harus membuat lembar penilaian khusus untuk menilai kecerdasan afektif ini, yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap nilai akhir yang diperoleh siswa. Dengan demikian siswa akan terbiasa dengan nilai-nilai pendidikan berkarakter yang telah diajarkan.

Namun yang terlihat kini, banyak siswa yang “pintar” dalam pelajaran tapi juga “pintar” membuat hati temannya teriris. Ya bukan teriris dengan pisau, melainkan menyakiti hati temannya yang tidak lebih pintar. Misalnya ketika ada siswa yang biasa-biasa saja tingkat kecerdasannya mempresentasikan hasil kerja ataupun menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru di papan tulis. Tapi siswa yang pintar ini tanpa merasa bersalah langsung berteriak-teriak, “itu salah bu, yang benar 52 hasilnya”. Atau ketika temannya sedang melakukan presentasi di depan kelas, ia menyambung-nyambung apa yang dikatakan temannya karena ia telah paham dan tahu lebih dulu mengenai apa yang disampaikan oleh temannya. Harusnya yang dilakukan siswa pintar ini adalah menjadi pendengar yang baik dan menghargai temannya.
Pentingnya Pendidikan Berkarakter
Sumber: Pixabay
Inilah yang menyebabkan moral dari bangsa ini seakan bobrok, karena kekurangan aqidah dan etika sebagai seorang manusia. Semakin lama sumber daya manusia di Indonesia memiliki  IQ di atas rata-rata, namun berbanding terbalik dengan kecerdasan emosi yang dimilikinya.
Syukur Alhamdulillah kini pemerintah telah menetapkan kurikulum berkarakter. Semoga tidak hanya tertulis di RPP para guru, semoga tidak hanya dalam waktu yang sebentar diterapkan di kehidupan sehari-hari. Semoga dengan usaha pemerintah menetapkan kurikulum berkarakter dapat membuat karakter bangsa ini menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya dan Indonesia menjadi negara maju, bukan lagi negara berkembang, Ya, semoga.

Jun 2, 2012

Jenuh?

Jenuh atau bosan adalah hal yang pernah dialami oleh semua orang. Termasuk saya dan teman-teman seperjuangan di bangku perkuliahan. Dari sekian banyak teman yang sudah saya tanyakan, apakah lelah dan jenuh dengan kuliah saat ini, sebagian besar menjawab ya. Sebagian yang lain mengatakan tidak jenuh, namun fisik dan pikirannya terlalu lelah. Menurut saya memang wajar, karena kita hanya manusia biasa yang masih susah untuk mengontrol diri, apalagi di usia yang baru menginjak 20-an ini. Namun kejenuhan yang dialami tidak sepatutnya terus membawa diri kita terikut arus untuk terus jenuh dan malas. Jika sudah terlampau jenuh, biasanya mengeluh pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan pada semua orang memang jalan yang biasa dilakukan. Bagaimana mengerjakan tugas ini, bagaimana mengerjakan tugas itu. Seharusnya yang kita lakukan adalah bukan hanya mengatakan bagaimana dan mengeluh dengan banyaknya tugas, namun cukup diam dan berpikir bagaimana jalan keluarnya, lalu BERTINDAK, ya bertindak.  Waktu hanya akan terlewatkan dengan percuma jika dihabiskan dengan mengeluh dan merenung nasib karena banyak tugas, tetapi tidak adanya tindakan sama sekali.
Jenuh?
Sumber: Pixabay
Seharusnya kita harus bersyukur karena masih dalam keadaan cukup seperti sekarang ini.  Di luar sana masih banyak yang ingin tetap melanjutkan pendidikan namun terkendala oleh banyak hal. Pada sebuah drama lawas korea yang berjudul Phoenix, saya mempelajari banyak hal mengenai masa depan dari seorang yang rajin berusaha dan tak berhenti menyerah pada saat ia menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Walaupun ia hanya seorang miskin dan yatim piatu, ia mampu menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan ternama selepas ia menyelesaikan program magisternya. Ia berusaha untuk terus belajar, agar terus mendapat beasiswa, karena ia bukan orang yang mampu untuk mengenyam pendidikan yang memang mahal. Hingga akhirnya, ia menjadi seorang direktur perusahaan besar. Teman-teman semasa kuliahnya sangat kagum akan kegigihannya.

Seorang yang menapaki anak tangga satu persatu mulai dari anak tangga paling dasar hingga anak tangga terakhir, akan lebih mampu menjalani kehidupan bagaimanapun keadaannya, apakah susah maupun senang ia akan siap untuk menjalaninya, karena ia telah melalui hidup dalam berbagai fase. Oleh karena itu, pepatah ini harus terus diyakini dalam hati kita “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

Percayalah tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan, selama kita terus yakin dan membawa diri ke arah yang dicita-citakan, serta tak angkuh dan senantiasa berdoa kepada-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang Maha Rahman, Maha Rahiim.