Jun 2, 2012

Jenuh?

Jenuh atau bosan adalah hal yang pernah dialami oleh semua orang. Termasuk saya dan teman-teman seperjuangan di bangku perkuliahan. Dari sekian banyak teman yang sudah saya tanyakan, apakah lelah dan jenuh dengan kuliah saat ini, sebagian besar menjawab ya. Sebagian yang lain mengatakan tidak jenuh, namun fisik dan pikirannya terlalu lelah. Menurut saya memang wajar, karena kita hanya manusia biasa yang masih susah untuk mengontrol diri, apalagi di usia yang baru menginjak 20-an ini. Namun kejenuhan yang dialami tidak sepatutnya terus membawa diri kita terikut arus untuk terus jenuh dan malas. Jika sudah terlampau jenuh, biasanya mengeluh pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan pada semua orang memang jalan yang biasa dilakukan. Bagaimana mengerjakan tugas ini, bagaimana mengerjakan tugas itu. Seharusnya yang kita lakukan adalah bukan hanya mengatakan bagaimana dan mengeluh dengan banyaknya tugas, namun cukup diam dan berpikir bagaimana jalan keluarnya, lalu BERTINDAK, ya bertindak.  Waktu hanya akan terlewatkan dengan percuma jika dihabiskan dengan mengeluh dan merenung nasib karena banyak tugas, tetapi tidak adanya tindakan sama sekali.
Jenuh?
Sumber: Pixabay
Seharusnya kita harus bersyukur karena masih dalam keadaan cukup seperti sekarang ini.  Di luar sana masih banyak yang ingin tetap melanjutkan pendidikan namun terkendala oleh banyak hal. Pada sebuah drama lawas korea yang berjudul Phoenix, saya mempelajari banyak hal mengenai masa depan dari seorang yang rajin berusaha dan tak berhenti menyerah pada saat ia menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Walaupun ia hanya seorang miskin dan yatim piatu, ia mampu menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan ternama selepas ia menyelesaikan program magisternya. Ia berusaha untuk terus belajar, agar terus mendapat beasiswa, karena ia bukan orang yang mampu untuk mengenyam pendidikan yang memang mahal. Hingga akhirnya, ia menjadi seorang direktur perusahaan besar. Teman-teman semasa kuliahnya sangat kagum akan kegigihannya.

Seorang yang menapaki anak tangga satu persatu mulai dari anak tangga paling dasar hingga anak tangga terakhir, akan lebih mampu menjalani kehidupan bagaimanapun keadaannya, apakah susah maupun senang ia akan siap untuk menjalaninya, karena ia telah melalui hidup dalam berbagai fase. Oleh karena itu, pepatah ini harus terus diyakini dalam hati kita “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

Percayalah tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan, selama kita terus yakin dan membawa diri ke arah yang dicita-citakan, serta tak angkuh dan senantiasa berdoa kepada-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang Maha Rahman, Maha Rahiim.

Part of Caturekamandala PK 41-LPDP.

Aceh Besar, Indonesia. A Future Educator, Insya Allah

Peraturan Berkomentar

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang santun, baik, dan sopan.
- Berkomentarlah sesuai dengan topik (relevan).
- Dilarang keras komentar yang mengandung SARA, pornografi, kekerasan, dan pelecehan.
- Komentar dengan link promo akan masuk spam.

Terima kasih.
P.s. Silahkan klik pada tombol Emoticon jika ingin memasukkan emoticon.
EmoticonEmoticon