Jun 21, 2016

3 Golongan yang Pertama Kali Masuk Neraka

Dulu saat masih tinggal bersama orangtua, setiap kali saya menonton program Berita Islami Masa Kini di Trans TV, saya selalu mencatatnya dengan tujuan sebagai pengingat diri dan menambah ilmu.
Sumber: Pixabay

Berikut adalah salah satu catatan saya dari tayangan Berita Islami Masa Kini, pada hari Jumat, 13 Juni 2014.

3 Golongan yang Pertama Kali Masuk Neraka

  • Orang yang mati syahid, tetapi ingin namanya disebut-sebut sebagai pahlawan. Harusnya jika ingin berbuat kebaikan apapun, termasuk berperang di jalan Allah, yang mana menyebabkan kehilangan nyawa (syahid), baiknya luruskan niat agar yang dilakukan benar-benar mencari keridhaan dari Allah semata, agar Allah lebih sayang kepada kita. 
  • Mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membacanya, tetapi ingin disebut-sebut sebagai orang alim. Hal ini yang paling saya takutkan sebagai seorang pengajar dan peneliti. Takut akan pujian dan secara tak sadar menjadi haus pujian dan berubah menjadi ujub, na'udzubillah min dzalik. Cara mengatasinya adalah dengan tidak berharap akan pujian, niatkan ikhlas karena Allah dan pahala akan ilmu yang bermanfaat ketika sudah tiada nanti. 
  • Orang yang menyedekahkan hartanya, tetapi ingin namanya disebut-sebut sebagai dermawan, hal tersebut juga merupakan penyakit "riya". Namanya bersedekah, kalau bisa tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu, begitu pentingnya menyembunyikan identitas saat bersedekah. Namun bagaimana jika niatnya ingin berbagi inspirasi dan mengajak orang lain? Nah, tipsnya nih sebenarnya sangat gampang. Di berbagai media sosial kan banyak tuh Charity Organization seperti ACT (Aksi Cepat Tanggap), kitabisa.com, dan lain-lain yang sudah resmi dan terjamin, nah kita bisa bantu share di sosial media kita juga tentang organisasi tersebut, bagaimana menyumbangnya, dan lain-lain. Intinya kita tidak perlu mengatakan bahwa, "saya sudah menyumbang nih, kamu bagaimana?", enggak perlu sama sekali, namanya manusia tempat salah dan lupa, lebih baik dihindari jika ada celah untuk riya. Kalimatnya bisa diganti dengan yang lebih persuasif, misalnya, dengan tidak mengatakan bahwa kita sudah menyumbang dan lain-lain, sebisa mungkin dihindari. Kecuali kamu memang seorang infuencer di sosial media dan mereka ingin kamu mempromosikan di sosial mediamu dengan kalimat demikian. 
Segala sesuatu memang berawal dari niat, luruskan niat dan tekadkan karena Allah. Sudah tak mampu dihitung lagi seberapa banyak nikmat yang Allah berikan, seberapa sayang Allah kepada kita, takkan mampu kita hitung. Semoga kita senantiasa menjaga diri, memperbaiki diri, dari hal-hal yang tidak disukai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kita selalu dekat denganNya. Aamiin.. Allahumma Aamiin..

Part of Caturekamandala PK 41-LPDP.

Aceh Besar, Indonesia. A Future Educator, Insya Allah

2 comments

Peraturan Berkomentar

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang santun, baik, dan sopan.
- Berkomentarlah sesuai dengan topik (relevan).
- Dilarang keras komentar yang mengandung SARA, pornografi, kekerasan, dan pelecehan.
- Komentar dengan link promo akan masuk spam.

Terima kasih.
P.s. Silahkan klik pada tombol Emoticon jika ingin memasukkan emoticon.
EmoticonEmoticon