Dec 26, 2012

26 Desember 2004

Jum’at, 24 Desember 2004 pukul 21:10 WIB aku bergegas menuju kampung halamanku di Krueng Raya Aceh Besar menggunakan sepeda motor dengan abang kandungku. Aku menetap di rumah kakak di kota Banda Aceh dan bersekolah di sebuah SMP Negeri yang terletak dekat dengan rumah kakakku. Malam itu aku bergegas ingin pulang ke rumah karena pada hari sabtu adalah hari natal dan sekolah pun libur. Aku memiliki 2 hari waktu libur untuk bisa berada di rumah dengan kedua orang tuaku dan juga kakak abangku.
Malam itu terasa sunyi dan tidak seperti biasanya. Aku pun membawa pulang baju-baju serta buku-buku sekolah lebih banyak dari biasanya. Krueng Raya berjarak 30 km dari kota Banda Aceh, dan biasanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk tiba disana jika menggunakan kendaraan pribadi.

Ketika aku melintasi jalan di kawasan  Cotpaya, aku masih dapat dengan jelas melihat rumah sepupuku yang berlantai 2 dan terletak dekat dengan jalan raya. Aku sangat ingin kembali menginap di rumahnya, namun aku tetap ingin menghabiskan waktu liburku di rumah. Tidak ada firasat apa-apa malam itu. Ternyata itu adalah hari terakhir aku melihat segalanya masih utuh di sepanjang perjalanan menuju Krueng Raya.

Keesokan harinya, pada tanggal 25 Desember 2004 aku menghabiskan waktuku seharian dengan bersantai sambil menonton TV dan membaca buku. Malamnya aku menonton film dengan kakakku hingga larut malam.

Minggu, 26 Desember 2004 aku dan kakakku bangun sahur untuk melaksanakan puasa ganti. Ada rasa yang berbeda saat itu, entah kenapa kakak mengatakan makanlah roti itu yang banyak, nanti kita tidak sempat memakannya lagi. Aku pun manggut-manggut saja sambil menghabiskan makananku. Dan kami pun duduk-duduk sejenak menunggu waktu shalat Subuh.

Karena masih sangat mengantuk, seusai shalat Subuh aku pun kembali tidur, dan aku terbangun dengan goncangan yang sangat dahsyat yang terjadi kira-kira pada pukul 08.00 WIB. Kakakku berteriak, ‘adek bangun gempa!!” aku pun dengan masih hoyong berlari menuju pintu belakang yang melewati dapur untuk menuju ke halaman rumah.

Aku melihat Amaak (Ibuku) sibuk memasukkan air dari ember ke dalam bak, pada saat itu Amaak sedang menampung air PAM. Aku pun berteriak, Maak ini gempaa kuat kali, ayok keluar!! Kami berempat yaitu Ayah, Amaak, Kakak, dan aku sendiri menuju halaman depan, kami berdiri di atas papan kayu tepat di atas selokan. Gempa semakin kuat dan membuat semua bergoncang.

Ketika gempa sudah sedikit pelan, kami mendengar suara ledakan yang sangat keras seperti suara bom. Andai saja saat itu aku tahu bahwa yang meledak itu adalah gunung api yang berada di dasar laut. Kemudian tiang telepon tepat di depan rumahku pun roboh. Sehingga kami tidak dapat menelepon keluarga Kakakku yang berada di kota Banda Aceh untuk menanyakan keadaannya.  


Setelah gempa mereda, Ayah berkata akan pergi ke warung kopi di persimpangan Krueng Raya yang tidak jauh dari rumahku, beliau ingin tahu dari manakah sumber suara ledakan itu. Aku pun mencuci muka, menyisir rambut dan mengikatnya rapi, serta mengganti pakaian. Dan Amaak pun berang melihat aku mengganti pakaian dengan pakaian rumah lagi. Kemudian aku duduk di depan pintu dapur yang di bawahnya ada pohon jambu. Pada saat itu aku sedang membersihkan kuku.

Sekitar pukul 08.15 aku melihat tetanggaku Bang Marbon berlari dan berteriak keras, “ie laot ka di ek” (air laut naik). Aku pun bergegas masuk ke dalam memanggil Amaak dan Kakak, mereka terlihat berbegas membereskan barang. Aku pun mengambil tas, memasukkan mukenah, jaket, selimut, dan hp ku yang saat itu sinyal telkomsel belum tersedia di Krueng Raya.

Kemudian Ayah pun pulang, kami bertiga kebingungan karena Ayah mengatakan, “cok breuh, cok kompor (ambil beras, ambil kompor). Amaak pun menjawab, “Hai Ayah kiban tacok, breuh dalam Cosmos” (Hai Ayah, gimana mau diambil, beras di dalam Cosmos/tempat beras). Kemudian kakak tanpa bicara memasukkan kompor ke dalam mobil jeep tua Ayah, aku pun masuk dengan meloncat dari pintu belakang. Dan ada saudara jauh dari Amaak sepasang suami istri dengan seorang anak menumpang di mobil kami ketika berpapasan dengan mereka yang berjalan kaki.


Belum sampai 20 langkah (jika dihitung dengan langkah kaki) mobil berjalan, di lorong rumahku itu telah disesaki oleh orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri, hingga mobil pun tidak bisa berjalan lagi. Dan aku melihat dengan jelas air yang hitam dan menakutkan memasuki lorong rumahku. Aku melihat seorang ibu-ibu jatuh terpeleset dengan datangnya air tsunami itu. Aku pun mengatakan, “Ayah, adek takot”. Ayah pun lemas mendengar aku begitu, aku ingin menangis tapi tak bisa. Bagiku hari itu adalah mimpi buruk dan tidak nyata.

Ayah mengatakan kita tidak bisa di dalam mobil, air sudah menuju kemari.
Kakak pun mengatakan pada Ayah, “Ayah cok adek” (Ayah ambil adek). Aku pun turun dari mobil, ketika menginjak tanah air pun sudah sepinggang. Kemudian aku di dorong oleh air tsunami itu ke dalam sebuah kios Playstation, tanganku dipegang oleh Ayah. Aku melihat kakak masih di mobil, menahan mobil karena Amaak belum turun. Aku mendengar Amaak berkata, “Pa kiban lon treun” (gimana caranya saya turun). Mungkin saking shocknya melihat air yang mengerikan itu datang terlalu cepat, Amaak menjadi bingung dan panik.

Dan... Aku tak tampak melihat apa-apa lagi. Kios PS itu hampir roboh, tangan Ayah sudah menggendongku agar aku bisa bernafas. Air sudah melewati leherku. Ayah memindahkan lembaran seng satu persatu agar tidak mengenai kepalaku, dibantu oleh Almarhum bang Erwin yang sedari aku kecil sering menjagaku karena ia adalah teman abangku juga.


Aku dan Ayah bertemu dengan bang Erwin pada saat kami bergumul di dalam air itu. Itulah saat terakhir aku melihat bang Erwin hidup, ia mengatakan pada Ayah agar memindahkan sengnya supaya tidak mengenai kepalaku.

Kemudian ombak melebihi 4 kali lipat tinggi tiang listrik menghantam kami. Ayah pun melepaskan tangannya dan mengatakan, “adek nyelam kesana nak”. Aku langsung jatuh ke dalam air, menelan air tsunami yang sangat perih dan aku melawan satu persatu balok kayu yang menimpa tubuhku, aku menyepaknya dengan kakiku. Sekitar 2 menit aku pun lemah, aku tak bisa bernafas, aku terus menelan airnya.
Di dalam kesakitan itu, aku mendengar suara Amaak berteriak, “Ka meuratep aneuk lon” (berzikirlah anakku). Dalam hati terucap, Alhamdulillah Amaak tidak tenggelam. Aku merasa itu adalah akhirku, hari terakhirku di dunia. Aku akan menemui ajalku di usia 13 tahun.
Aku terus berzikir, Laa ilaaha illallah.. Aku terus menelan air itu. Sembari terus berzikir, terputarlah kembali semua akan ingatanku di dunia. Aku belum sempat membahagiakan orang tuaku, kakak abangku, keponakanku yang masih kecil-kecil, keluarga besar, dan sahabat-sahabatku. Aku pun seperti menunggu kedatangan malaikat pencabut nyawa. Kapankah dia datang.
Aku mendengar suara Amaak berzikir dengan kerasnya. Aku pasrah di dalam air itu, aku lemah. Entah berapa lama, mungkin sudah 20 menit aku di dalam air, tiba-tiba aku merasa hidungku sakit dan perih. Sepertinya air sudah surut namun belum sepenuhnya surut, aku mulai bisa bernafas dengan mulut. Namun aku tidak bisa bangkit karena balok-balok kayu menguburi seluruh tubuhku. Dan aku mendengar suara kakak, dia berkata, “Yah, adek hoe?” (Yah, adek mana). Aku mendengar suara Ayah dan beliau menangis, “hana lee adek, adek ka di tinggai geutanyoe” (adek tidak ada lagi, adek sudah meninggalkan kita). Aku pun diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk berteriak dan melambaikan tangan, karena hanya pergelangan tangan kiri ku yang tidak terkubur oleh balok kayu. Aku berteriak, “ada adek, adek masih hidup, adek disini!! Tolong adek gak bisa nafas”. Kakak pun memegang tangan kiriku, “iya adek, tunggu. Berat-berat kali kayunya”. Aku pun kembali melihat dunia ketika balok yang menutupi wajahku di buka. Aku melihat ayah memindahkan balok-balok di kakiku. Sesaat kemudian ayah dan kakak melemah. Hingga ada seekor ular di dekat kakiku, kakak mengatakan ia takut dan tidak berani mendekat. Namun aku membujuknya agar terus mengeluarkan aku dari timbunan balok itu.
Ayah sangat lemah, ia duduk terkulai lemas. Kakak pun terus berusaha, mengeluarkan segenap tenaganya. Hingga akhirnya ia menarikku paksa dan aku pun lepas dari timbunan balok-balok. Kemudian aku melihat Amaak keluar dari tumpukan balok yang sangat tinggi. Aku langsung mengucap Alhamdulillah kami selamat semua. Amaak berkata beliau tidak menelan air sedikitpun dan tidak ada luka. Namun saat itu aku terasa bahu kananku sakit dan sepertinya patah.
Kemudian aku melihat sekeliling, jasad bang Erwin dan semua orang yang ku kenal terbujur kaku. Aku tidak dapat melakukan apa-apa. Ada seorang dari tetangga kami yang berteriak, air laut naik lagi. Kami pun bergegas, namun Ayah tak sanggup bangun. Beliau berkata pada kakak, “tulong jaga Mak ngon adek, Ayah bah disino, awak kah plung mantong U gunong” (tolong jaga Mamak sama adek, Ayah biar disini, kalian lari saja ke gunung). Kakak pun marah dan berkata, “peu cit aneuk muda thoen 60” (apa juga anak muda tahun 60). Ayah pun mau bangkit dan dibantu oleh Amaak serta dibopong oleh kakak. Aku berada di depan seolah sebagai penunjuk jalan.
Kemudian kami bertemu dengan Nek Wa, salah seorang kerabat yang juga tetangga kami, beliau mengatakan sudah tidak sempat lagi untuk naik ke gunung, ayo kita naik ke pohon saja. Kami pun berusaha memanjat pohon sawo di hadapan kami. Ayah dan Amaak sudah berada di pohon, aku dan kakak masih berada di bawah. Aku berkata pada kakak, “kekmana adek manjat kak, adek gak bisa manjat pohon kan”, kakak pun marah, “cepat naek, apa gak bisa!” Aku berusaha untuk memanjat dan akhirnya bisa.
Ketika sudah berada di atas pohon, aku mengikuti Amaak dan Nek Wa berzikir. Aku melihat Ayah tengah muntah dan mengeluarkan cairan berwarna coklat. Mulutku sangat bau minyak tanah, tangki pertamina di dekat rumahku pun banyak yang tumpah. Tentu saja aku menelan minyak yang sudah bercampur dengan perihnya air tsunami itu.
Alhamdulillah air laut yang kembali datang tidak menghampiri kami, air itu hanya datang sebatas jalan raya yang sedikit lagi memasuki lorong rumah kami. Aku pun menatap seluruh isi kampungku, yang bagiku pada saat itu bagai mimpu buruk. Sesak aku melihat semuanya bersih dan rata dengan tanah. Namun ada beberapa rumah yang Alhamdulillah selamat meski hanya sebagian, termasuk rumahku. Kakak berkata, “Dek, itu kan rumah kita, coba lihat tu dapur sama rumah panggung udah roboh”. Aku hanya mengangguk, lidahku kelu.
Akhirnya ketika suasana telah aman, kami memutuskan untuk menuju gunung yang sebenarnya terletak tidak jauh dari rumah kami. Beberapa orang dari saudara-saudara membantu Ayah untuk turun dari pohon. Aku tidak sanggup lagi berjalan, namun aku paksakan dengan tekad aku harus tetap hidup.
Digunung aku melihat nenek dan sepupu-sepupuku yang lain, Alhamdulillah semuanya selamat, ucapku dalam hati. Kami pun beristirahat disana, di dekat rumah temanku sewaktu MIN. Aku meminta pertolongannya untuk membagi kami air putih, ia pun memberikan kami pakaian untuk Ayah, Amaak, aku, dan kakak. Aku terus mengingat jasanya hingga kini.
Terlalu banyak jasad-jasad yang meninggal diletakkan di gunung tempat kami berteduh. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke dataran yang lebih tinggi, yaitu ke gedung SMP. Kami berjalan menuju ke belakang perpustakaan. Ketika kami beristirahat di situ, laut terlihat sangat jelas. Namun laut tampak sangat tenang seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sorenya aku melihat Ayah dan kakak terus muntah, mereka pucat. Aku khawatir dengan kondisiku yang tidak muntah sedikitpun. Padahal aku menelan banyak air. Akhirnya keluarga dari sepupuku menawarkan untuk ke rumah sepupuku yang berada di Ie Sue’um. Amaak pun mengiyakan. Hingga ketika kami berusaha berjalan kaki menuju kesana, kami bertemu dengan Almarhum sahabat Ayah semenjak kecil hingga kini, namun beliau baru saja meninggal belum sampai sebulan. Yah Gek kami akrab memanggilnya, beliau mengajak kami untuk mengungsi di puncak gunung Ie Sue’um yang ada gudang di dekat lokasinya.

26 Desember 2004
Museum Tsunami Aceh. Sumber: Pixabay

Kakak pun berkata,ya udah, kita ikut Yah Gek aja. Kami pun menunggu anak Yah Gek menjemput kami. Kami tiba disana kira-kira waktu magrib. Tempatnya sangat dingin. Kami tidur berlaskan plastik dan tiada pelindung dari embun. Kami sakit, badanku sakit. Kami semua sadar, segala sesuatunya terjadi atas kuasa Allah SWT. Aku yang diperkirakan tak lagi hidup oleh keluargaku karena tak bisa berenang, Alhamdulillah selamat dan masih hidup. Meskipun sakitnya masih terasa hingga kini, yaitu bahu sebelah kanan yang sangat terasa sakit jika aku melakukan aktivitas yang berat. Namun, aku sangat bersyukur Allah SWT masih memberikan kami kesempatan untuk hidup. Kejadian 8 tahun yang lalu itu takkan lekang setiap urutannya dalam ingatanku. Maha Besar Allah dengan segala kuasaNya.

Jun 26, 2012

Pentingnya Pendidikan Berkarakter

Sudah terlalu lama berpisah dari blog ini. Kesibukan dengan praktikum yang mengharuskan observasi lapangan, tugas-tugas kuliah tiada henti, hingga ujian akhir semester membuatku meninggalkan blog tercinta ini untuk sementara…

Akhirnya ujian akhir semester pun usai. Here I am...Kembali dengan postingan mengenai Pentingnya Pendidikan Berkarakter. Bukan karena saya baru saja menyelesaikan RPP (Rencana Program Pembelajaran) berkarakter, akan tetapi karena banyak sekali kejadian di kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan Emotional Spiritual Quotient (ESQ).

Sebenarnya semua yang ingin saya utarakan adalah berdasarkan pengalaman dan pengamatan yang telah saya lakukan sejak menginjak Taman Kanak-Kanak hingga kini di perguruan tinggi yang akan beranjak ke semester 7.

Menurut pendapat saya, seseorang yang memiliki kecerdasan emosional adalah orang yang tidak membuat orang lain marah dan emosi, tetapi juga mampu mengendalikan emosinya sendiri yang tidak hanya berupa perkataan, tapi juga pada perbuatannya yang tampak dari apa yang ia cerminkan di kehidupan sehari-hari. Sekalipun ia bukan seorang yang berbicara meledak-ledak, tetap saja ada faktor lain yang membuat orang marah dan menjadi “emosi”. Salah satu faktornya adalah karena sombong dan meremehkan, tidak mau mendengarkan pendapat orang lain, dan tidak memberikan kesempatan bagi orang lain untuk berbicara.

Memang benar, dengan mendengarkan kita mendapat lebih banyak dibanding terus menerus berbicara. Tapi mendengarkan dalam hal yang seperti apa? Mendengarkan untuk akhirnya tidak ada kesempatan berbicara? Tentu tidak demikian. Kita harus tetap mempertahankan hak kita untuk mengemukakan pendapat. Namun jika keadaan tidak lagi memungkinkan, lebih baik diam dan tidak perlu untuk mendengar jika hanya membawa diri anda ke dalam kondisi yang sangat menjengkelkan.

Kejadian di atas sering terjadi di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, seorang guru yang kini telah menerapkan pendidikan berkarakter dalam proses belajar mengajar, hendaknya benar-benar membuat hal tersebut terjadi di lapangan. Tidak hanya tertulis di RPP bahwa siswa mampu menghargai pendapat teman, menjadi pendengar yang baik, memberikan kesempatan bagi teman yang ingin memberikan pendapat, bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan, dll. Guru juga harus membuat lembar penilaian khusus untuk menilai kecerdasan afektif ini, yang nantinya juga akan berpengaruh terhadap nilai akhir yang diperoleh siswa. Dengan demikian siswa akan terbiasa dengan nilai-nilai pendidikan berkarakter yang telah diajarkan.

Namun yang terlihat kini, banyak siswa yang “pintar” dalam pelajaran tapi juga “pintar” membuat hati temannya teriris. Ya bukan teriris dengan pisau, melainkan menyakiti hati temannya yang tidak lebih pintar. Misalnya ketika ada siswa yang biasa-biasa saja tingkat kecerdasannya mempresentasikan hasil kerja ataupun menyelesaikan soal yang diberikan oleh guru di papan tulis. Tapi siswa yang pintar ini tanpa merasa bersalah langsung berteriak-teriak, “itu salah bu, yang benar 52 hasilnya”. Atau ketika temannya sedang melakukan presentasi di depan kelas, ia menyambung-nyambung apa yang dikatakan temannya karena ia telah paham dan tahu lebih dulu mengenai apa yang disampaikan oleh temannya. Harusnya yang dilakukan siswa pintar ini adalah menjadi pendengar yang baik dan menghargai temannya.
Pentingnya Pendidikan Berkarakter
Sumber: Pixabay
Inilah yang menyebabkan moral dari bangsa ini seakan bobrok, karena kekurangan aqidah dan etika sebagai seorang manusia. Semakin lama sumber daya manusia di Indonesia memiliki  IQ di atas rata-rata, namun berbanding terbalik dengan kecerdasan emosi yang dimilikinya.
Syukur Alhamdulillah kini pemerintah telah menetapkan kurikulum berkarakter. Semoga tidak hanya tertulis di RPP para guru, semoga tidak hanya dalam waktu yang sebentar diterapkan di kehidupan sehari-hari. Semoga dengan usaha pemerintah menetapkan kurikulum berkarakter dapat membuat karakter bangsa ini menjadi lebih baik dari sebelum-sebelumnya dan Indonesia menjadi negara maju, bukan lagi negara berkembang, Ya, semoga.

Jun 2, 2012

Jenuh?

Jenuh atau bosan adalah hal yang pernah dialami oleh semua orang. Termasuk saya dan teman-teman seperjuangan di bangku perkuliahan. Dari sekian banyak teman yang sudah saya tanyakan, apakah lelah dan jenuh dengan kuliah saat ini, sebagian besar menjawab ya. Sebagian yang lain mengatakan tidak jenuh, namun fisik dan pikirannya terlalu lelah. Menurut saya memang wajar, karena kita hanya manusia biasa yang masih susah untuk mengontrol diri, apalagi di usia yang baru menginjak 20-an ini. Namun kejenuhan yang dialami tidak sepatutnya terus membawa diri kita terikut arus untuk terus jenuh dan malas. Jika sudah terlampau jenuh, biasanya mengeluh pada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan pada semua orang memang jalan yang biasa dilakukan. Bagaimana mengerjakan tugas ini, bagaimana mengerjakan tugas itu. Seharusnya yang kita lakukan adalah bukan hanya mengatakan bagaimana dan mengeluh dengan banyaknya tugas, namun cukup diam dan berpikir bagaimana jalan keluarnya, lalu BERTINDAK, ya bertindak.  Waktu hanya akan terlewatkan dengan percuma jika dihabiskan dengan mengeluh dan merenung nasib karena banyak tugas, tetapi tidak adanya tindakan sama sekali.
Jenuh?
Sumber: Pixabay
Seharusnya kita harus bersyukur karena masih dalam keadaan cukup seperti sekarang ini.  Di luar sana masih banyak yang ingin tetap melanjutkan pendidikan namun terkendala oleh banyak hal. Pada sebuah drama lawas korea yang berjudul Phoenix, saya mempelajari banyak hal mengenai masa depan dari seorang yang rajin berusaha dan tak berhenti menyerah pada saat ia menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Walaupun ia hanya seorang miskin dan yatim piatu, ia mampu menjadi seorang direktur di sebuah perusahaan ternama selepas ia menyelesaikan program magisternya. Ia berusaha untuk terus belajar, agar terus mendapat beasiswa, karena ia bukan orang yang mampu untuk mengenyam pendidikan yang memang mahal. Hingga akhirnya, ia menjadi seorang direktur perusahaan besar. Teman-teman semasa kuliahnya sangat kagum akan kegigihannya.

Seorang yang menapaki anak tangga satu persatu mulai dari anak tangga paling dasar hingga anak tangga terakhir, akan lebih mampu menjalani kehidupan bagaimanapun keadaannya, apakah susah maupun senang ia akan siap untuk menjalaninya, karena ia telah melalui hidup dalam berbagai fase. Oleh karena itu, pepatah ini harus terus diyakini dalam hati kita “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”.

Percayalah tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan, selama kita terus yakin dan membawa diri ke arah yang dicita-citakan, serta tak angkuh dan senantiasa berdoa kepada-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala, yang Maha Rahman, Maha Rahiim.

Apr 27, 2012

Tak Perlu untuk Suudhon pada Sesama Makhluk Allah

Pernah suatu waktu di masa lalu, ketika aku duduk di kelas dan mempelajari materi-materi yang telah disampaikan oleh pengajar di tempat aku menuntut ilmu bersama teman-teman lainnya, kami saling berbagi pengetahuan. Namun, seorang teman itu datang dan memotong pembicaraanku, masuk ke dalam pembicaraan kami dan menjelaskan semuanya. Yah memang aku berterima kasih atas penjelasannya yang bagus dan lebih baik dariku, namun hal tersebut membuat konsentrasiku buyar karena apa yang dijelaskannya adalah bukan yang sedang aku pelajari. Tapi, Aku hanya diam..
Tak Perlu untuk Suudhon pada Sesama Makhluk Allah
Sumber: Pixabay
Ketika proses belajar mengajar berlangsung, ia terus menerus menyambung apa yang dikatakan oleh pengajar, seakan mulutnya tak bisa berhenti dan diam. Setiap manusia memang memiliki cara yang berbeda-beda dalam belajar, namun setidaknya aku berharap ada sedikit toleransi untuk tidak nyatek-nyatek dengan apa yang dikatakan pengajar saat penyampaian materi, karena tidak semua orang bisa mengerti jika terdengar dua suara yang mengajarkan.
Tak perlu untuk suudhon memang, karena mungkin saja maksudnya baik. Kita tidak pernah tahu apa yang ada dan tersimpan di dalam benak hati seseorang. Hanya saja jika ada hal yang mengganggu diri kita baiknya dibicarakan dan katakan saja baik-baik. Jika dipendam hal tersebut secara tidak langsung akan menyakiti hati dan berbuah menjadi suudhon.
Namun jika kita sudah menyampaikan apa yang ingin kita katakan, tapi tidak digubris sama sekali dan malah menjadi-jadi, ya biarkan sajalah. Yang jelas tidak perlu untuk berpikiran negatif dan menumpuk-numpukkan perasaan berburuk sangka. Karena berburuk sangka tidak hanya merusak hati dan qalbu kita, juga memakan amalan-amalan baik kita.
Misalnya jika kita meminta sesuatu dari orang lain, namun tidak diberikan, janganlah menganggap dan berprasangka bahwa orang tersebut jahat, pelit, dan tidak mau menolong kita. Pasti ada alasan tertentu yang membuatnya tidak ingin menolong kita. Berpikir positiflah.
Dalam Q.S Al Hujuraat ayat 12 Allah SWT berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang”.
Semoga kita senantiasa dapat mengontrol hati dan qalbu untuk tidak memiliki penyakit hati seperti suudhon. Kita sesama makhluk Allah di muka bumi ini bertujuan yang sama, yaitu mencari bekal di kehidupan akhirat kelak yang abadi. Jadi tidak perlu untuk berburuk sangka sesama makhluk ciptaan Allah.

Mar 31, 2012

Bahagia Karena Allah

Pada saat masalah membelenggumu, pikiran berkecamuk dan tak bisa engkau tenangkan diri....Bersabarlah..Allah akan memberimu jalan keluar...Memohonlah kepadaNya, dengan penuh rendah diri dan tinggalkanlah perbuatan dosa. Berdoalah senantiasa kepada Allah, lakukan terus menerus hingga kita tak pernah bosan..
Bahagia Karena Allah
Sumber: Pixabay

Saat seisi dunia meninggalkan kita, keluarga, kekasih, sahabat.. Hanya pada Allah lah kita dapat kembali, hanya pada Allah kita dapat berkeluh kesah 24 jam penuh. Hanya Allah lah yang akan menerima kita kembali...Mohon ampunlah pada Allah ketika kita melakukan perbuatan dosa, mohonlah agar dibukakan jalan yang benar dan lurus di hidup kita.

Hidup dengan bahagia...Ya, semua insan di dunia pasti ingin hidup dengan bahagia.. Namun, bahagia yang memberikan kenikmatan dunia akhirat.. Tentu saja dengan berbahagia karena Allah, berbahagia karena hal yang di ridhaiNya. Jika ingin hidup aman tenteram dunia akhirat dan di ridhai Allah, kita kita harus melakukan berbagai hal yang mendekatkan diri kepada Allah..Sebutkan dan serukan asmaNya setiap waktu, setiap detik, setiap engkau hembuskan nafasmu..Jika Allah telah dekat dengan kita, sesulit apapun hidup akan menjadi mudah, karena akan ada saja jalan keluar dari permasalahan tersebut. Ibarat kita sudah sangat dekat dengan seseorang, apapun yang kita minta pasti akan diberi. Begitu halnya juga dengan Allah. Semakin kita ingin dekat dengan Allah, semakin kita rajin beribadah, semakin kita dekat dengan Allah, dan doa-doa kita pun akan dikabulkan, tentunya dengan berikhtiar yang sungguh-sungguh, Insya Allah akan dikabulkan dan dibukakan jalan olehNya. Karena Allah mencintai hambaNya yang suka bersungguh-sungguh dan giat dalam menggapai cita-citaNya dan juga tak henti memohon kepada Allah. Namun, jika kita sudah berusaha keras dan juga berdoa tapi tetap tidak tercapai apa yang kita inginkan, itu sudah takdir dan ketentuan dari Allah SWT. Karena, “kita manusia hanya bisa bermimpi, berharap, berusaha, dan berdoa”.. Selebihnya Allah yang menentukan. Allah yang Maha segala-galanya.

Mar 27, 2012

Kontak Batinku dengan Amak (Ibu)

Hari ini saya dan seorang sahabat saya pergi ke perpustakaan untuk mengembalikan buku yang telah ia pinjam sebelumnya. Memang sudah menjadi kebiasaan bagi kami meminjam buku-buku mengenai motivasi diri dan berbagai buku lainnya yang membuat kami dapat lebih baik. Setiba di perpustakaan, saya langsung mengambil tempat untuk duduk dan browsing dengan laptop, kebetulan koneksi wifinya memang bagus.

Sahabat saya sedang mengembalikan buku-buku yang dipinjamnya pada pustakawan. Sekembalinya, ia menunjukkan beberapa buku tentang positif thinking dan kekuatan pikiran. Namun saya hanya mengiyakan dan sibuk memutar-mutar globe yang ada di meja tempat kami duduk, saya bertanya padanya, dimana ya korea. Jauh ga dari Aceh, pengen kali aku kesana. Hahaha katanya sembari tertawa, carilah tu. Tu aja gak tau..hahaha tawanya sembari berlalu mencari buku-buku di rak. Saya pun kembali menatap laptop, mencari beberapa tempat yang bagus di korea pada google map. Setibanya sahabat saya, mata saya yang memang agak besar ini terbelalak dan heran ketika melihatnya menunjukkan buku mengenai Character Building. Saya pun membuka halaman demi halaman. Saya mengatakan padanya, aku suka buka ni..ambel lah buat aku..Ambel aja sendiri, tuh banyak.. Kemudian saya mengajaknya kembali ke kampus, dan saya pun memutuskan untuk meminjam buku yang sama dengannya. Kami memiliki kelas sampai dengan pukul 18.00, agak lelah begitu tiba di rumah lantunan ayat suci Al-Qur’an sudah menggema di mesjid. Pertanda shalat magrib akan tiba. Selepas shalat magrib, saya menerima sms dari sahabat saya, “coba baca buku character building tadi, halaman 118”. Saya pun merasa penasaran dan membaca judulnya, “Kembali ke Fitrah sebagai Jalan Menemukan Jati Diri”. Saya pun terus membaca pada barisan pertama, "Berawal dari ’Aljanatu tahta aqdamil umahat’. Artinya surga di bawah telapak kaki Ibu. Airmata saya mulai berlinang. Buku ini menjelaskan bahwa fitrah seseorang dalam rangka menemukan jati dirinya adalah kembali melihat hakikat batin kehidupan.

Pada saat kita bayi, hubungan batin antara Ibu dan diri kita menyatu, dan tidak dapat dipisahkan. Saat kita sudah dewasa, sadar ataupun tidak kita telah membuat Ibu kita kesal, jengkel, dan berbuat dosa terhadap Ibu kita. Sekalipun bukan dosa yang besar, namun jika hal itu sudah sering dilakukan akan membuat Ibu sakit hati dan mulai menumpuk. Pada bacaan paragraf ketiga ini saya sudah banjir airmata, betapa tidak..terlalu sering Amak (panggilan sayang saya dan abang untuk mamak) menegur untuk tidak malas belajar, jaga kesehatan, jangan minum es nanti demam lagi, jangan makan pedas dan minum kopi nanti kambuh maagnya. Namun saya hanya mengiyakan dan menganggap Amak tak marah. Namun setiba saya di rumah semalam diantar oleh abang, mak..adek saket ni..makanya pulang.. Amak menjawab, nanti udah gak sanggup pergi pagi-pagi dari sini, kan rumah kita jauh nak dari kampus adek.

Saya pun mengiyakan dan bilang, adek saket ni mak..demam..flu..dingin lagi.. Amak pun mengatakan, waktu sehat mamak bilang jangan minum es gak dengar, sekarang udah saket mau gimana.. Saya pun teringat akan masa saya di taman kanak-kanak, nasehat seperti ini telah ku dengar selama 17 tahun, saya masuk TK pada umur 4 tahun. Ketika membaca di buku ini, saya teringat bahwa mungkin sakit hati Ibu saya sudah menumpuk juga. Pada buku ini dijelaskan bahwa dosa-dosa semacam inilah yang menyebabkan jarak dan rintangan bahkan menjauhkan hubungan batin antara anak dan Ibunya. Astaghfirullahal’adzim, Alhamdulillah Amak masih terasa tidak enak perasaan saat saya sakit, walaupun saya tak memberitahunya. Namun, pada buku ini dijelaskan bahwa untuk menyatukan kembali tali batin antara anak dan Ibu diperlukan keyakinan dan cara, yaitu:
  1. Usahakan pada malam Jum’at, kira-kira jam 22.00 duduk berduaan dengan sang Ibu di tempat yang agak sepi dan hening.
  2. Selanjutnya, si anak mengambil air secukupnya dan dimasukkan ke dalam baskom. Mohonlah maaf dan izin dari sang Ibu untuk merendamkan kedua kaki ibunya disana sambil membaca “Aljanatu tahta aqdamil umaha” sebanyak tiga kali.
  3. Selanjutnya, bersimpuhlah di pangkuan sang ibu dengan mengucapkan: “Ibu, mulai saat ini tolong ikhlaskan dan ampuni dosa Ananda lahir maupun batin karena Ananda menyadari kesalahan dan dosa yang Ananda perbuat terhadap Ibunda. Lakukanlah dengan setulus mungkin. Jika ingin lebih menyentuh, baik juga dilakukan sambil menangis.
  4. Utarakan apabila si anak punya cita-cita ataupun permasalahan, mohonlah doa restu.
  5. Setelah itu, berdoalah dengan membaca “Allahummaghfirli wali walidayya warhamhuma kama rabbayani saghira”.

Kemudian, pada buku ini ditegaskan bahwa apabila hal itu sudah dilakukan dengan tulus, sejak saat itu ibunda pasti akan mengampuni semua dosa si anak dan pasti tali hubungan batin kembali menyatu, seperti saat masih bayi. Insya Allah. Di sinilah fitrah si anak ditemukan kembali, artinya jati diri si anak telah kembali. Mulai saat itu, si ibu pasti akan mendoakan kembali anaknya dengan ikhlas tanpa ada ganjalan (hati ibunya pun sudah bersih kembali).
Kontak Batinku dengan Amaak (Ibu)
Sumber: Pixabay

Dengan begitu, janganlah berbuat dosa kepada ibu maupun sesama umat dan manusia lainnya. Insya Allah, kehidupan si anak akan menemui ketenangan dan dilapangkan jalan kehidupannya.

Buku Character Building yang ditulis Bapak H.Soemarno Soedarsono ini sangat membuka mata saya, buku ini pun saya tutup dan saya kembali ke niat awal saya untuk mengaji. Pada saat mengaji pun saya masih menangis, bagaimana jika saya tak sempat membahagiakan Amak saya karena saya sudah duluan kembali pada Allah..Teringat kembali bagaimana wajah Amak takut kehilangan saya pada saat tsunami tahun 2004 dan saya kecelakaan tabrak lari tahun 2007. Ia pun menangis melihat saya tenggelam diantara kios PS. Sayup-sayup terdengar suara amak mengatakan, “ka meuratep aneuk lon”..Bagaimanapun sakit hatinya Ibu kepada kita, beliau tidak akan pernah dendam..bahkan akan selalu mencintai kita dan mendoakan kita dimanapun kita berada..

Banda Aceh, 27 Maret 2012 Pukul 20.40 WIB.

Jan 30, 2012

Getaran Panas dan Dingin yang Dipancarkan Oleh Tanaman

Tanaman yang hijau dan indah hidup beraneka ragam di sekitar kita seperti halnya manusia. Ia bisa hidup subur bila terawat, dan ia juga bisa kena penyakit dan juga mati. Tanaman yang akrab dengan kita, ternyata tidak sekedar memberikan keindahan, tapi juga dapat memancarkan getaran positif (dingin) dan getaran negatif (panas).
Tanaman yang mempunyai getaran dingin akan memberikan pengaruh dingin terhadap manusia dan lingkungan di sekitarnya. Demikian juga sebaliknya, tanaman yang mempunyai getaran panas akan memberikan pengaruh panas terhadap manusia dan lingkungan sekitar.

Getaran yang dipancarkan itu disebut dengan aura. Pada masing-masing tanaman terdapat aura yang berbeda-beda. Seperti tanaman yang getarannya panas berwarna merah, coklat, dan orange. Sedangkan yang getarannya dingin berwarna hijau, kuning, putih, dan biru muda.
Di Amerika getaran tanaman dapat dibuktikan secara ilmiah dengan cara Kirlian Fotografi, sehingga getaran yang ada dapat ditangkap oleh lensa. Kemajuan teknologi telah membuktikan bahwa getaran pada tanaman itu ada.

Getaran yang dipancarkan oleh tanaman yang memiliki getaran positif atau getaran dingin akan memberikan perasaan tenang, nyaman, dan rileks. Misalnya berbagai jenis palem, cemara, dan suplir akan memancarkan getaran dingin apabila banyak di tanam di sekitar rumah kita.
Getaran panas yang ditimbulkan oleh tanaman akan memberikan perasaan menjadi tidak sabaran, serba terburu-buru, kurang tenang, banyak urusan, dan selalu sibuk hidupnya. Misalnya saja berbagai jenis mawar, kaktus, bougenville, dan bunga tasbih. Bukan berarti kita tidak boleh menanam tanaman tersebut, tetapi kita dapat menetralisir getaran panas tersebut dengan tanaman bergetaran dingin. Getaran panas mempunyai gelombang Beta, dan getaran dingin mempunyai gelombang Alfa. Gelombang beta menimbulkan stress, sedangkan gelombang alfa memberikan rasa tenang dalam diri kita.