Dec 26, 2012

26 Desember 2004

Jum’at, 24 Desember 2004 pukul 21:10 WIB aku bergegas menuju kampung halamanku di Krueng Raya Aceh Besar menggunakan sepeda motor dengan abang kandungku. Aku menetap di rumah kakak di kota Banda Aceh dan bersekolah di sebuah SMP Negeri yang terletak dekat dengan rumah kakakku. Malam itu aku bergegas ingin pulang ke rumah karena pada hari sabtu adalah hari natal dan sekolah pun libur. Aku memiliki 2 hari waktu libur untuk bisa berada di rumah dengan kedua orang tuaku dan juga kakak abangku.
Malam itu terasa sunyi dan tidak seperti biasanya. Aku pun membawa pulang baju-baju serta buku-buku sekolah lebih banyak dari biasanya. Krueng Raya berjarak 30 km dari kota Banda Aceh, dan biasanya membutuhkan waktu sekitar 40 menit untuk tiba disana jika menggunakan kendaraan pribadi.

Ketika aku melintasi jalan di kawasan  Cotpaya, aku masih dapat dengan jelas melihat rumah sepupuku yang berlantai 2 dan terletak dekat dengan jalan raya. Aku sangat ingin kembali menginap di rumahnya, namun aku tetap ingin menghabiskan waktu liburku di rumah. Tidak ada firasat apa-apa malam itu. Ternyata itu adalah hari terakhir aku melihat segalanya masih utuh di sepanjang perjalanan menuju Krueng Raya.

Keesokan harinya, pada tanggal 25 Desember 2004 aku menghabiskan waktuku seharian dengan bersantai sambil menonton TV dan membaca buku. Malamnya aku menonton film dengan kakakku hingga larut malam.

Minggu, 26 Desember 2004 aku dan kakakku bangun sahur untuk melaksanakan puasa ganti. Ada rasa yang berbeda saat itu, entah kenapa kakak mengatakan makanlah roti itu yang banyak, nanti kita tidak sempat memakannya lagi. Aku pun manggut-manggut saja sambil menghabiskan makananku. Dan kami pun duduk-duduk sejenak menunggu waktu shalat Subuh.

Karena masih sangat mengantuk, seusai shalat Subuh aku pun kembali tidur, dan aku terbangun dengan goncangan yang sangat dahsyat yang terjadi kira-kira pada pukul 08.00 WIB. Kakakku berteriak, ‘adek bangun gempa!!” aku pun dengan masih hoyong berlari menuju pintu belakang yang melewati dapur untuk menuju ke halaman rumah.

Aku melihat Amaak (Ibuku) sibuk memasukkan air dari ember ke dalam bak, pada saat itu Amaak sedang menampung air PAM. Aku pun berteriak, Maak ini gempaa kuat kali, ayok keluar!! Kami berempat yaitu Ayah, Amaak, Kakak, dan aku sendiri menuju halaman depan, kami berdiri di atas papan kayu tepat di atas selokan. Gempa semakin kuat dan membuat semua bergoncang.

Ketika gempa sudah sedikit pelan, kami mendengar suara ledakan yang sangat keras seperti suara bom. Andai saja saat itu aku tahu bahwa yang meledak itu adalah gunung api yang berada di dasar laut. Kemudian tiang telepon tepat di depan rumahku pun roboh. Sehingga kami tidak dapat menelepon keluarga Kakakku yang berada di kota Banda Aceh untuk menanyakan keadaannya.  


Setelah gempa mereda, Ayah berkata akan pergi ke warung kopi di persimpangan Krueng Raya yang tidak jauh dari rumahku, beliau ingin tahu dari manakah sumber suara ledakan itu. Aku pun mencuci muka, menyisir rambut dan mengikatnya rapi, serta mengganti pakaian. Dan Amaak pun berang melihat aku mengganti pakaian dengan pakaian rumah lagi. Kemudian aku duduk di depan pintu dapur yang di bawahnya ada pohon jambu. Pada saat itu aku sedang membersihkan kuku.

Sekitar pukul 08.15 aku melihat tetanggaku Bang Marbon berlari dan berteriak keras, “ie laot ka di ek” (air laut naik). Aku pun bergegas masuk ke dalam memanggil Amaak dan Kakak, mereka terlihat berbegas membereskan barang. Aku pun mengambil tas, memasukkan mukenah, jaket, selimut, dan hp ku yang saat itu sinyal telkomsel belum tersedia di Krueng Raya.

Kemudian Ayah pun pulang, kami bertiga kebingungan karena Ayah mengatakan, “cok breuh, cok kompor (ambil beras, ambil kompor). Amaak pun menjawab, “Hai Ayah kiban tacok, breuh dalam Cosmos” (Hai Ayah, gimana mau diambil, beras di dalam Cosmos/tempat beras). Kemudian kakak tanpa bicara memasukkan kompor ke dalam mobil jeep tua Ayah, aku pun masuk dengan meloncat dari pintu belakang. Dan ada saudara jauh dari Amaak sepasang suami istri dengan seorang anak menumpang di mobil kami ketika berpapasan dengan mereka yang berjalan kaki.


Belum sampai 20 langkah (jika dihitung dengan langkah kaki) mobil berjalan, di lorong rumahku itu telah disesaki oleh orang-orang yang berlarian menyelamatkan diri, hingga mobil pun tidak bisa berjalan lagi. Dan aku melihat dengan jelas air yang hitam dan menakutkan memasuki lorong rumahku. Aku melihat seorang ibu-ibu jatuh terpeleset dengan datangnya air tsunami itu. Aku pun mengatakan, “Ayah, adek takot”. Ayah pun lemas mendengar aku begitu, aku ingin menangis tapi tak bisa. Bagiku hari itu adalah mimpi buruk dan tidak nyata.

Ayah mengatakan kita tidak bisa di dalam mobil, air sudah menuju kemari.
Kakak pun mengatakan pada Ayah, “Ayah cok adek” (Ayah ambil adek). Aku pun turun dari mobil, ketika menginjak tanah air pun sudah sepinggang. Kemudian aku di dorong oleh air tsunami itu ke dalam sebuah kios Playstation, tanganku dipegang oleh Ayah. Aku melihat kakak masih di mobil, menahan mobil karena Amaak belum turun. Aku mendengar Amaak berkata, “Pa kiban lon treun” (gimana caranya saya turun). Mungkin saking shocknya melihat air yang mengerikan itu datang terlalu cepat, Amaak menjadi bingung dan panik.

Dan... Aku tak tampak melihat apa-apa lagi. Kios PS itu hampir roboh, tangan Ayah sudah menggendongku agar aku bisa bernafas. Air sudah melewati leherku. Ayah memindahkan lembaran seng satu persatu agar tidak mengenai kepalaku, dibantu oleh Almarhum bang Erwin yang sedari aku kecil sering menjagaku karena ia adalah teman abangku juga.


Aku dan Ayah bertemu dengan bang Erwin pada saat kami bergumul di dalam air itu. Itulah saat terakhir aku melihat bang Erwin hidup, ia mengatakan pada Ayah agar memindahkan sengnya supaya tidak mengenai kepalaku.

Kemudian ombak melebihi 4 kali lipat tinggi tiang listrik menghantam kami. Ayah pun melepaskan tangannya dan mengatakan, “adek nyelam kesana nak”. Aku langsung jatuh ke dalam air, menelan air tsunami yang sangat perih dan aku melawan satu persatu balok kayu yang menimpa tubuhku, aku menyepaknya dengan kakiku. Sekitar 2 menit aku pun lemah, aku tak bisa bernafas, aku terus menelan airnya.
Di dalam kesakitan itu, aku mendengar suara Amaak berteriak, “Ka meuratep aneuk lon” (berzikirlah anakku). Dalam hati terucap, Alhamdulillah Amaak tidak tenggelam. Aku merasa itu adalah akhirku, hari terakhirku di dunia. Aku akan menemui ajalku di usia 13 tahun.
Aku terus berzikir, Laa ilaaha illallah.. Aku terus menelan air itu. Sembari terus berzikir, terputarlah kembali semua akan ingatanku di dunia. Aku belum sempat membahagiakan orang tuaku, kakak abangku, keponakanku yang masih kecil-kecil, keluarga besar, dan sahabat-sahabatku. Aku pun seperti menunggu kedatangan malaikat pencabut nyawa. Kapankah dia datang.
Aku mendengar suara Amaak berzikir dengan kerasnya. Aku pasrah di dalam air itu, aku lemah. Entah berapa lama, mungkin sudah 20 menit aku di dalam air, tiba-tiba aku merasa hidungku sakit dan perih. Sepertinya air sudah surut namun belum sepenuhnya surut, aku mulai bisa bernafas dengan mulut. Namun aku tidak bisa bangkit karena balok-balok kayu menguburi seluruh tubuhku. Dan aku mendengar suara kakak, dia berkata, “Yah, adek hoe?” (Yah, adek mana). Aku mendengar suara Ayah dan beliau menangis, “hana lee adek, adek ka di tinggai geutanyoe” (adek tidak ada lagi, adek sudah meninggalkan kita). Aku pun diberikan kekuatan oleh Allah SWT untuk berteriak dan melambaikan tangan, karena hanya pergelangan tangan kiri ku yang tidak terkubur oleh balok kayu. Aku berteriak, “ada adek, adek masih hidup, adek disini!! Tolong adek gak bisa nafas”. Kakak pun memegang tangan kiriku, “iya adek, tunggu. Berat-berat kali kayunya”. Aku pun kembali melihat dunia ketika balok yang menutupi wajahku di buka. Aku melihat ayah memindahkan balok-balok di kakiku. Sesaat kemudian ayah dan kakak melemah. Hingga ada seekor ular di dekat kakiku, kakak mengatakan ia takut dan tidak berani mendekat. Namun aku membujuknya agar terus mengeluarkan aku dari timbunan balok itu.
Ayah sangat lemah, ia duduk terkulai lemas. Kakak pun terus berusaha, mengeluarkan segenap tenaganya. Hingga akhirnya ia menarikku paksa dan aku pun lepas dari timbunan balok-balok. Kemudian aku melihat Amaak keluar dari tumpukan balok yang sangat tinggi. Aku langsung mengucap Alhamdulillah kami selamat semua. Amaak berkata beliau tidak menelan air sedikitpun dan tidak ada luka. Namun saat itu aku terasa bahu kananku sakit dan sepertinya patah.
Kemudian aku melihat sekeliling, jasad bang Erwin dan semua orang yang ku kenal terbujur kaku. Aku tidak dapat melakukan apa-apa. Ada seorang dari tetangga kami yang berteriak, air laut naik lagi. Kami pun bergegas, namun Ayah tak sanggup bangun. Beliau berkata pada kakak, “tulong jaga Mak ngon adek, Ayah bah disino, awak kah plung mantong U gunong” (tolong jaga Mamak sama adek, Ayah biar disini, kalian lari saja ke gunung). Kakak pun marah dan berkata, “peu cit aneuk muda thoen 60” (apa juga anak muda tahun 60). Ayah pun mau bangkit dan dibantu oleh Amaak serta dibopong oleh kakak. Aku berada di depan seolah sebagai penunjuk jalan.
Kemudian kami bertemu dengan Nek Wa, salah seorang kerabat yang juga tetangga kami, beliau mengatakan sudah tidak sempat lagi untuk naik ke gunung, ayo kita naik ke pohon saja. Kami pun berusaha memanjat pohon sawo di hadapan kami. Ayah dan Amaak sudah berada di pohon, aku dan kakak masih berada di bawah. Aku berkata pada kakak, “kekmana adek manjat kak, adek gak bisa manjat pohon kan”, kakak pun marah, “cepat naek, apa gak bisa!” Aku berusaha untuk memanjat dan akhirnya bisa.
Ketika sudah berada di atas pohon, aku mengikuti Amaak dan Nek Wa berzikir. Aku melihat Ayah tengah muntah dan mengeluarkan cairan berwarna coklat. Mulutku sangat bau minyak tanah, tangki pertamina di dekat rumahku pun banyak yang tumpah. Tentu saja aku menelan minyak yang sudah bercampur dengan perihnya air tsunami itu.
Alhamdulillah air laut yang kembali datang tidak menghampiri kami, air itu hanya datang sebatas jalan raya yang sedikit lagi memasuki lorong rumah kami. Aku pun menatap seluruh isi kampungku, yang bagiku pada saat itu bagai mimpu buruk. Sesak aku melihat semuanya bersih dan rata dengan tanah. Namun ada beberapa rumah yang Alhamdulillah selamat meski hanya sebagian, termasuk rumahku. Kakak berkata, “Dek, itu kan rumah kita, coba lihat tu dapur sama rumah panggung udah roboh”. Aku hanya mengangguk, lidahku kelu.
Akhirnya ketika suasana telah aman, kami memutuskan untuk menuju gunung yang sebenarnya terletak tidak jauh dari rumah kami. Beberapa orang dari saudara-saudara membantu Ayah untuk turun dari pohon. Aku tidak sanggup lagi berjalan, namun aku paksakan dengan tekad aku harus tetap hidup.
Digunung aku melihat nenek dan sepupu-sepupuku yang lain, Alhamdulillah semuanya selamat, ucapku dalam hati. Kami pun beristirahat disana, di dekat rumah temanku sewaktu MIN. Aku meminta pertolongannya untuk membagi kami air putih, ia pun memberikan kami pakaian untuk Ayah, Amaak, aku, dan kakak. Aku terus mengingat jasanya hingga kini.
Terlalu banyak jasad-jasad yang meninggal diletakkan di gunung tempat kami berteduh. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke dataran yang lebih tinggi, yaitu ke gedung SMP. Kami berjalan menuju ke belakang perpustakaan. Ketika kami beristirahat di situ, laut terlihat sangat jelas. Namun laut tampak sangat tenang seperti biasanya, seolah tidak terjadi apa-apa.
Sorenya aku melihat Ayah dan kakak terus muntah, mereka pucat. Aku khawatir dengan kondisiku yang tidak muntah sedikitpun. Padahal aku menelan banyak air. Akhirnya keluarga dari sepupuku menawarkan untuk ke rumah sepupuku yang berada di Ie Sue’um. Amaak pun mengiyakan. Hingga ketika kami berusaha berjalan kaki menuju kesana, kami bertemu dengan Almarhum sahabat Ayah semenjak kecil hingga kini, namun beliau baru saja meninggal belum sampai sebulan. Yah Gek kami akrab memanggilnya, beliau mengajak kami untuk mengungsi di puncak gunung Ie Sue’um yang ada gudang di dekat lokasinya.

26 Desember 2004
Museum Tsunami Aceh. Sumber: Pixabay

Kakak pun berkata,ya udah, kita ikut Yah Gek aja. Kami pun menunggu anak Yah Gek menjemput kami. Kami tiba disana kira-kira waktu magrib. Tempatnya sangat dingin. Kami tidur berlaskan plastik dan tiada pelindung dari embun. Kami sakit, badanku sakit. Kami semua sadar, segala sesuatunya terjadi atas kuasa Allah SWT. Aku yang diperkirakan tak lagi hidup oleh keluargaku karena tak bisa berenang, Alhamdulillah selamat dan masih hidup. Meskipun sakitnya masih terasa hingga kini, yaitu bahu sebelah kanan yang sangat terasa sakit jika aku melakukan aktivitas yang berat. Namun, aku sangat bersyukur Allah SWT masih memberikan kami kesempatan untuk hidup. Kejadian 8 tahun yang lalu itu takkan lekang setiap urutannya dalam ingatanku. Maha Besar Allah dengan segala kuasaNya.

Part of Caturekamandala PK 41-LPDP.

Aceh Besar, Indonesia. A Future Educator, Insya Allah

11 comments

Teringat lagi tsunami baca nii :'((
Sok kali yaa,, di unfollow lah kita @adeeeek :(

Teringat lagi tsunami baca ni :'((
Sok kali yaa,, di unfollow lah kita @adeeeek :(

Ceritanya sedih banget kak tapi diselipi kalimat yg menggelitik���� suksesss terus akak....

semoga hari ini dijadikan moment untuk merenungi kejadian dari kebesaran Allah, sehingga para insan senatian terus bisa memperbaiki diri menjadi sosok yang lebih baik, khususnya mereka yang berada di Aceh.

Semoga kita semua selalu berada dalam lindungan Allah dan dijauhkan dari marabahaya dunia ini ya dek :)

Allahumma Aamiin, insya Allah bang, semangat mengejar ridha Allah di persinggahan sementara ini :)

Ya, manusia tidak ada apa2nya...

Terima kasih atas ceritanya,

Peraturan Berkomentar

- Diharapkan menggunakan kata-kata yang santun, baik, dan sopan.
- Berkomentarlah sesuai dengan topik (relevan).
- Dilarang keras komentar yang mengandung SARA, pornografi, kekerasan, dan pelecehan.
- Komentar dengan link promo akan masuk spam.

Terima kasih.
P.s. Silahkan klik pada tombol Emoticon jika ingin memasukkan emoticon.
EmoticonEmoticon